Sosiologi Umum
|
Rabu, 23 Maret 2016
|
Ika Nurmalita/A24150178
|
1.07
|
Praktikum ke-4
|
|
“MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN”
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA
BATAK
Oleh : Arbain Rambey
|
|
Asistensi :
|
|
Surianie/I24120022
|
|
Lingkungan
Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat
tinggal masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau
Toba. Porbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah organisasi kesukuan yang
berdiri pada bulan Agustus 1997 ini menayangkan iklan dengan tulisan putih
dengan dasar hitam untuk mengajak masyarakat Batak Toba di mana pun berada
untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Ompu Monang
Napitupulu, ketua Parboto memaparkan pentingnya tiap etnis di Indonesia harus memiliki
kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk
solidaritas Indonesia secara keseluruhan.
Batak Toba merupakan satu buah sub-etnis dari
suku Batak saja, sub-etnis Batak lainnya adalah Batak Angkola, Batak
Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak (atau Dairi) dan Batak Kato. Daniel
Napitulu merupakan nama asli dari Ompu Monang, nama Ompu Monang ia gunakan
setelah kelahiran cucu pertamanya yaitu Monang Napitupulu, dalam Batak Toba
kelahiran cucu merupakan berkah dan rahmat yang luar biasa sehingga menggunakan
nama tersebut merupakan cara khas Batak Toba yang harus dipertahankan untuk
kehangatan keluarga. Selain itu kehangatan kekerabatan dalam budaya Batak Toba
dapat dilihat pada sebuah upacara perkawinan Batak Toba, hampir semua orang
yang datang merupakan orang penting dan mempunyai hubungan kekerabatan yang
sangat dekat dengan mempelai.
Kekerabatan
itu dalam satu sisi membawa arus positif, yaitu adanya rasa tanggung jawab pada
pendidikan dan perawatan seorang anak yang bisa melebar kepada paman-pamannya.
Kekerabatan juga mempunyai sisi negatif yaitu dalam penghamburan uang dan
waktu. Pemborosan uang dan waktu dapat dilihat dalam pesta batak, yaitu adanya
acara keluarga yang berlebihan, adanya acara pemberian nasihat yang sama dari
banyak orang sampai berjam-jam, dan adanya acara pengulosan yaitu pemberian
kain ulos dari setiap orang kepada mempelai yang menyebabkan pemborosan uang.
Selain itu terjadi juga penyelewengan adat Batak Toba yang buntutnya pemborosan
uang dan waktu misalnya, para orang tua menjadikan pesta perkawinan sebagai
ajang gengsi dengan mengumpulkan banyak ulos, karena semakin banyak ulos yang
diterima maka semakin terpandang orang yang mengadakan pesta tersebut. adapun
penyelewengan lainnya yaitu adanya pembangunan makam-makan Batak Toba yang
nilainya sampai ratusan juta rupiah per makamnya. Ompu Monangsebagai ketua
Praboto sudah sering menyelenggarakan seminar untuk membahas penyelewangan adat
Batak Toba, namun hasil seminar hanya terbatas pada cetakan hasil seminar saja.
Ompu Monang akhirnya melakukan tindakan agar menjadi contoh sehingga bisa
terjadi pemutusan penyelewangan adat dengan cara melaksanakan perkawinan anak perempuannya
dengan cara yang lebih sederhana namun tidak keluar dari adat Batak Toba, yaitu
dengan tidak ada nasihat-nasihat dari banyak orang, membataskan penerimaan
ulos, dan hanya orang tua dan saudara kandung mempelai yang boleh mengundang.
Kesenian
dalam suku Dayak Kenyah dan Modang ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks
gerak kehidupan sehari-hari, artinya kesenian bukan suatu peristiwa khusu
seperti pada masyarakat khusus di kota. Daerah pemukiman suku Dayak Kenyah dan
Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota
Tenggarang. Kecamatan tersbut memiliki dua belas perkampungan yang letaknya
tersebar di tepi sebelah kiri Sungai Kelinjau, anak sungai Mahakam, Sungai
Kelinjau ini menjadi saran lalu-lintas antar kampong ke kota. Suku kenyah dan
suku mondang berasal dari daerah pegunungan yang bernama Apokayan di sebelah
utara Kalimantan Timur. Daerah ini merupakan daerah terisolir. Mereka hidup
dengan bentuk kebudayaan dan system nilai mereka yang asli pada saat itu, namun
setelah masuk misionaris Belanda yang membawa agama Kristiani ke daerah ini
tahun 30-an menimbulkan berbagai macam persoalan salah satunya konflik antara
mereka yang sudah pindah agama dengan meraka yang tetap bersikeras memeluk
kepercayaan yang dulu.
Akumulasi
dari konflik ini membawa efek pada perpecahan yang tragis antar anak suku
bahkan antar keluarga sendiri yang masih satu darah keturunan. Mereka yang
memeluk agama baru akhirnya mengamnil keputusan untuk meninggalkan daerah
asalnya. Sektor Ekonomi mereka mengalami perubahan, banyak dari mereka yang berubah menjadi miskin karena akibat dari
hal-hal baru yang mereka belum penuhi. Selain sektor ekonomi, sektor kebudayaan
dan kesenian pun ikut terdistorsi
misalnya, Lamin yang manifestasi dari tata cara
pemerintah dan susunan masyarakat serta merupakan titik sentral dari aktivitas kehidupan
mereka dalam ruang penghayatan kebersamaan yang eksistensial, akhirnya
tereduksi jadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga saat ini sudah
mempunyai rumah sendiri. Faktor terjahat yang menggoncagkan kehidupan
masyarakat Dayak adalah munculnya penguasa hutan yang mendadak mengunci hutan
untuk daerah perladangan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Didalam
berladang, lahir kebudayaan, kesenian, adat, sistem nilai, kepercayaan,
sosialistis, kebersamaan dan lain-lain. Terciptanya kondisi ini tidak lepas
dari tanggung jawab pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar