Kamis, 05 Mei 2016

Sosiologi Umum
Rabu, 23 Maret 2016
Ika Nurmalita/A24150178
1.07
Praktikum ke-4
“MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN”
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain Rambey
Asistensi :
Surianie/I24120022

Lingkungan Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat tinggal masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba. Porbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997 ini menayangkan iklan dengan tulisan putih dengan dasar hitam untuk mengajak masyarakat Batak Toba di mana pun berada untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Ompu Monang Napitupulu, ketua Parboto memaparkan pentingnya tiap etnis di Indonesia harus memiliki kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidaritas Indonesia secara keseluruhan.
 Batak Toba merupakan satu buah sub-etnis dari suku Batak saja, sub-etnis Batak lainnya adalah Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak (atau Dairi) dan Batak Kato. Daniel Napitulu merupakan nama asli dari Ompu Monang, nama Ompu Monang ia gunakan setelah kelahiran cucu pertamanya yaitu Monang Napitupulu, dalam Batak Toba kelahiran cucu merupakan berkah dan rahmat yang luar biasa sehingga menggunakan nama tersebut merupakan cara khas Batak Toba yang harus dipertahankan untuk kehangatan keluarga. Selain itu kehangatan kekerabatan dalam budaya Batak Toba dapat dilihat pada sebuah upacara perkawinan Batak Toba, hampir semua orang yang datang merupakan orang penting dan mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan mempelai.
Kekerabatan itu dalam satu sisi membawa arus positif, yaitu adanya rasa tanggung jawab pada pendidikan dan perawatan seorang anak yang bisa melebar kepada paman-pamannya. Kekerabatan juga mempunyai sisi negatif yaitu dalam penghamburan uang dan waktu. Pemborosan uang dan waktu dapat dilihat dalam pesta batak, yaitu adanya acara keluarga yang berlebihan, adanya acara pemberian nasihat yang sama dari banyak orang sampai berjam-jam, dan adanya acara pengulosan yaitu pemberian kain ulos dari setiap orang kepada mempelai yang menyebabkan pemborosan uang. Selain itu terjadi juga penyelewengan adat Batak Toba yang buntutnya pemborosan uang dan waktu misalnya, para orang tua menjadikan pesta perkawinan sebagai ajang gengsi dengan mengumpulkan banyak ulos, karena semakin banyak ulos yang diterima maka semakin terpandang orang yang mengadakan pesta tersebut. adapun penyelewengan lainnya yaitu adanya pembangunan makam-makan Batak Toba yang nilainya sampai ratusan juta rupiah per makamnya. Ompu Monangsebagai ketua Praboto sudah sering menyelenggarakan seminar untuk membahas penyelewangan adat Batak Toba, namun hasil seminar hanya terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Ompu Monang akhirnya melakukan tindakan agar menjadi contoh sehingga bisa terjadi pemutusan penyelewangan adat dengan cara  melaksanakan perkawinan anak perempuannya dengan cara yang lebih sederhana namun tidak keluar dari adat Batak Toba, yaitu dengan tidak ada nasihat-nasihat dari banyak orang, membataskan penerimaan ulos, dan hanya orang tua dan saudara kandung mempelai yang boleh mengundang.


































Kesenian dalam suku Dayak Kenyah dan Modang ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks gerak kehidupan sehari-hari, artinya kesenian bukan suatu peristiwa khusu seperti pada masyarakat khusus di kota. Daerah pemukiman suku Dayak Kenyah dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarang. Kecamatan tersbut memiliki dua belas perkampungan yang letaknya tersebar di tepi sebelah kiri Sungai Kelinjau, anak sungai Mahakam, Sungai Kelinjau ini menjadi saran lalu-lintas antar kampong ke kota. Suku kenyah dan suku mondang berasal dari daerah pegunungan yang bernama Apokayan di sebelah utara Kalimantan Timur. Daerah ini merupakan daerah terisolir. Mereka hidup dengan bentuk kebudayaan dan system nilai mereka yang asli pada saat itu, namun setelah masuk misionaris Belanda yang membawa agama Kristiani ke daerah ini tahun 30-an menimbulkan berbagai macam persoalan salah satunya konflik antara mereka yang sudah pindah agama dengan meraka yang tetap bersikeras memeluk kepercayaan yang dulu.
Akumulasi dari konflik ini membawa efek pada perpecahan yang tragis antar anak suku bahkan antar keluarga sendiri yang masih satu darah keturunan. Mereka yang memeluk agama baru akhirnya mengamnil keputusan untuk meninggalkan daerah asalnya. Sektor Ekonomi mereka mengalami perubahan, banyak dari mereka yang berubah menjadi miskin karena akibat dari hal-hal baru yang mereka belum penuhi. Selain sektor ekonomi, sektor kebudayaan dan kesenian pun ikut terdistorsi misalnya, Lamin yang manifestasi dari tata cara pemerintah dan susunan masyarakat serta merupakan titik sentral dari aktivitas kehidupan mereka dalam ruang penghayatan kebersamaan yang eksistensial, akhirnya tereduksi jadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga saat ini sudah mempunyai rumah sendiri. Faktor terjahat yang menggoncagkan kehidupan masyarakat Dayak adalah munculnya penguasa hutan yang mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Didalam berladang, lahir kebudayaan, kesenian, adat, sistem nilai, kepercayaan, sosialistis, kebersamaan dan lain-lain. Terciptanya kondisi ini tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar