Kamis, 05 Mei 2016

Sosiologi Umum
Rabu, 20 April 2016
Ika Nurmalita/A24150178
1.07
Praktikum ke-8
SISTEM PONDOK
Oleh : Wariso Ram
Asistensi :
Surianie/I24120022
Dalam keadaan “ketidak cukupan”, tidak cukup lahan untuk bertani, tidak cukup pendidikan untuk memperoleh pekerjaan dalam sektor formal, tidak cukup modal untuk berusaha di desanya. Keadaan ini mendorong migran sirkuler untuk melakukan usaha mandiri secara kecil-kecilan dengan modal yang tidak begitu besar dan peralatan yang tidak mahal. Migran sirkuler yang bergerak pada bidang usaha ini disevut dengan istilah “usaha sisa” karena pemilik modal tidak tertarik bergerak dalam usaha ini. Sebab terbiasanya bekerja sebagai penjual keliling mereka mempunyai kesiapan matang dalam hal pemasaran hasil disamping mereka mereka juga pernah bekerja sebagai karyawan sehingga mempunyai pengalaman dalam seluk-beluk proses produksi. Berkat kerjasama antara migran sirkuler yang memiliki jiwa wiraswasta dan mempunyai sedikit modal serta pengalaman yang banyak, mereka mengembangkan aktivitas ekonomi yang menggunakan penyemaian yang subur bagi perkembangan sistem pondok di kalangan migran sirkuler. Jenis usaha sisa yaitu usaha membuat dan mnejual makanan atau minuman murah serta usaha transport jarak dekat dengan tenaga bukan mesin (becak). Jenis usaha yang mereka jalani bersifat padat karya, maka diperlukan keterampilan dalam pengolahan hubungan antar manusia yang biaanya berasas kerukunan atau kekeluargaan menjadi sendi utama walaupun tujuan utamanya adalah keuntungan ekonomi.

                Macam-macam sistem pondok dari sudut pandang sumbangan tenaga kerja migran sirkuler, yaitu sistem pondok yang memiliki kedudukan yang sama setiap anggotanya sehingga tidak ada sebutan majikan maupun karyawan dan hanya bermodalkan saling percaya. Yang kedua ada sistem pondok pengusaha dengan kedudukan sebagai kepala rumah tangga sehingga belum ada pembagian tugas membuat barang dengan tugas menjual hasil dan menggunakan sistem kekeluargaan. Yang ketiga adalah sistem pondok yang telah kenal deferensiasi tenaga dalam proses produksi (karyawan) dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi (penjual) dengan kata lain adanya kedudukan “majikan” dan adanya imbalan tergantung majikan serta adanya sistem saling pinjam dengan sistem kepercayaan dan kekeluargaan, biasanya sistem ini disebut perusahaan perorangan. Dan yang keempat adalah sistem pondok dimana pemilik tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran. Pemilik hanya menyewakan tempat sehingga adanya uang sewa maka disebut sistem pondok sewa. Sistem ini ada pemisahan anatara tenaga pembuat dan tenaga penjual dan tidak adanya jaminan makanan. Macam-macam kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya, pondok boro dapat dibedakan menjadi tiga yakni, pondok boro buruh, pondok boro penjual, dan pondok boro produksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar