|
Sosiologi
Umum
|
Rabu,
20 April 2016
|
|
Ika
Nurmalita/A24150178
|
1.07
|
|
Praktikum
ke-8
|
|
|
SISTEM PONDOK
Oleh : Wariso Ram
|
|
|
Asistensi :
|
|
|
Surianie/I24120022
|
|
Dalam keadaan
“ketidak cukupan”, tidak cukup lahan untuk bertani, tidak cukup pendidikan
untuk memperoleh pekerjaan dalam sektor formal, tidak cukup modal untuk
berusaha di desanya. Keadaan ini mendorong migran sirkuler untuk melakukan
usaha mandiri secara kecil-kecilan dengan modal yang tidak begitu besar dan
peralatan yang tidak mahal. Migran sirkuler yang bergerak pada bidang usaha ini
disevut dengan istilah “usaha sisa” karena pemilik modal tidak tertarik
bergerak dalam usaha ini. Sebab terbiasanya bekerja sebagai penjual keliling
mereka mempunyai kesiapan matang dalam hal pemasaran hasil disamping mereka mereka
juga pernah bekerja sebagai karyawan sehingga mempunyai pengalaman dalam
seluk-beluk proses produksi. Berkat kerjasama antara migran sirkuler yang
memiliki jiwa wiraswasta dan mempunyai sedikit modal serta pengalaman yang
banyak, mereka mengembangkan aktivitas ekonomi yang menggunakan penyemaian yang
subur bagi perkembangan sistem pondok di kalangan migran sirkuler. Jenis usaha
sisa yaitu usaha membuat dan mnejual makanan atau minuman murah serta usaha
transport jarak dekat dengan tenaga bukan mesin (becak). Jenis usaha yang
mereka jalani bersifat padat karya, maka diperlukan keterampilan dalam
pengolahan hubungan antar manusia yang biaanya berasas kerukunan atau
kekeluargaan menjadi sendi utama walaupun tujuan utamanya adalah keuntungan
ekonomi.
Macam-macam
sistem pondok dari sudut pandang sumbangan tenaga kerja migran sirkuler, yaitu
sistem pondok yang memiliki kedudukan yang sama setiap anggotanya sehingga
tidak ada sebutan majikan maupun karyawan dan hanya bermodalkan saling percaya.
Yang kedua ada sistem pondok pengusaha dengan kedudukan sebagai kepala rumah
tangga sehingga belum ada pembagian tugas membuat barang dengan tugas menjual
hasil dan menggunakan sistem kekeluargaan. Yang ketiga adalah sistem pondok
yang telah kenal deferensiasi tenaga dalam proses produksi (karyawan) dengan
tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi (penjual) dengan kata lain
adanya kedudukan “majikan” dan adanya imbalan tergantung majikan serta adanya
sistem saling pinjam dengan sistem kepercayaan dan kekeluargaan, biasanya
sistem ini disebut perusahaan perorangan. Dan yang keempat adalah sistem pondok
dimana pemilik tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran.
Pemilik hanya menyewakan tempat sehingga adanya uang sewa maka disebut sistem
pondok sewa. Sistem ini ada pemisahan anatara tenaga pembuat dan tenaga penjual
dan tidak adanya jaminan makanan. Macam-macam kegiatan yang dilakukan oleh
penghuninya, pondok boro dapat dibedakan menjadi tiga yakni, pondok boro buruh,
pondok boro penjual, dan pondok boro produksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar